Jakarta- Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) sudah siap melaksakan kegiatan pertanian sepanjang tahun ini melalui empat program.

Keempatnya meliputi ketersediaan, akses, dan konsumsi pangan berkualitas, nilai tambah dan daya saing industri, pendidikan dan pelatihan vokasi, dan dukungan manajemen.

“Kementan berkomitmen melakukan akselerasi pembangunan pertanian dengan menyesuaikan tuntutan dunia yang dinamis, tetap menjamin kualitas produk pertanian yang prima dan ramah lingkungan. Selain itu, Kementan akan terus fokus dalam penyedian pangan bagi penduduk dan peningkatan daya saing produk pertanian,” kata Mentan Syahrul.

Menghadapi tuntutan di bidang pertanian ke depannya, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyatakan tantangan tahun 2023 tidak ringan akibat adanya perubahan iklim, dampak pandemi Covid-19, dan perang Rusia dan Ukrania yang masih terus belanjut.

Untuk itu, lanjut Dedi, BPPSDMP Kementan terus menerus berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM pertanian melalui tiga program utama yakni di bidang penyuluhan, bidang pendidikan, dan bidang pelatihan.

“Di bidang penyuluhan, kita akan bangun terus kostratani dengan kata lain pemberdayaan Balai Pelatihan Pertanian. Di bidang pelatihan, kita akan melakukan pelatihan vokasi untuk aparatur dan nonaparatur, P4S, dan petani milenial,” ungkap Dedi.

Untuk mempersiapkan program pelatihan vokasi aparatur dan non aparatur di sektor Pertanian Tahun 2023, Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP menyelenggarakan Koordinasi Pelaksanaan Kegiatan Tahun 2023 dan Perencanaan Anggaran Tahun 2024 Program READSI serta Konsolidasi Laporan Kinerja Pusat Pelatihan Pertanian Tahun 2022 pada 16 – 18 Januari 2023 di Hotel Bigland Bogor.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Muhammad Amin menyatakan pentingnya koordinasi dalam mempersiapkan pelatihan vokasi sektor pertanian tahun 2023.

Program READSI sendiri memiliki program pemberdayaan dan pembangunan bagi Penerima manfaat di sasaran program READSI yang hingga saat ini mencapai 55.738 petani di 6 provinsi dan 18 kabupaten.

Untuk itu, dalam mewujudkan tugas dan target tersebut berjalan lancar serta terlaksana secara efektif dan efisien, maka seluruh Pengelola Program READSI baik di Pusat (National Program Management Office/NPMO), Provinsi (Provincial Program Support Unit/PPSU), dan Kabupaten (District Program Management Office/DPMO) harus memahami konsep dan penerapan kegiatan READSI 2023.

“Saya harap para Manajer dan jajarannya harus bekerja keras dan cepat, pastikan kegiatan yang sudah direncanakan berjalan sesuai target, buat pendetilan kegiatan dan monitor pelaksanaannya. Pelaksanaan kegiatan harus mengacu pada pedoman pelaksanaan kegiatan Readsi yang telah disusun,” imbuh Amin.

Selain itu pada kesempatan yang sama disusun pula Laporan Kinerja Pusat Pelatihan Pertanian dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Pusat Pelatihan Pertanian. Pada kegiatan tersebut dilaksanakan koordinasi agar tersusun laporan dengan data yang baik serta tersedia eviden dalam mendukung pencapaian kinerja Pusat Pelatihan Pertanian dan UPT pada tahun 2022.

Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian, Leli Nuryati yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Pelatihan Pertanian sekaligus Direktur READSI, turut menyampaikan, program READSI dianggap telah sukses memberdayakan petani dan penyuluh.

Karena itu, pogram READSI yang tadinya berakhir di tahun 2023 dapat diperpanjang sampai tahun 2025. Untuk provinsi yang diperpanjang, lanjut Leli sebanyak 5 provinsi dan 14 kabupaten.

“Oleh sebab itu melalui pertemuan ini akan disampaikan pedoman pelaksanaan yang akan segera diaampaikan kepada seluruh pengelola program READSI untuk membantu akselerasi pelaksanaan program READSI 2023,” ucap dia.