Menteri Syahrul Yasin Limpo mengajak Kepala Daerah di Indonesia untuk meningkatkan penyerapan Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian secara masif.  Percepatan KUR penting dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sektor pertanian secara nasional. Sektor pertanian dapat berkontribusi semakin besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Program KUR dengan bunga 6% per tahun dapat dimanfaatkan oleh Petani. Kepala Daerah diharapkan dapat mendorong mereka memanfaatkan KUR yang disalurkan melalui bank milik BUMN seperti Bank Mandiri, BRI dan BNI.

Total akumulasi penyaluran KUR di sektor pertanian sejak awal 2021 hingga 25 Juli 2021 mencpai Rp 41,89 triliun yang didominasi subsektor perkebunan kelapa sawit sebesar Rp 9,5 triliun, diikuti subsektor pertanian padi Rp 7,8 triliun, serta subsektor perkebunan tanaman lainnya dan kehutanan sebesar Rp 5,5 triliun.

Mendukung program tersebut, Kementerian Pertanian melalui Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling Up Initiative (READSI), berikontribusi dalam peningkatan kapasitas SDM pertanian dalam meningkatkan literasi keuangan dan melakukan pendampingan akses permodalan bagi petani.

Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi menyampaikan tujuan utama Program READSI adalah meningkatkan penghidupan petani kurang mampu di daerah sasaran program agar berdaya. “READSI juga mendorong keterlibatan perempuan, perbaikan gizi keluarga serta pemupukan modal anggota melalui kegiatan simpan pinjam kelompok tani serta akses lembaga keuangan”.

Dalam hal peningkatan kapasitas SDM dan pendampingan akses permodalan, READSI massif melaksanakan pelatihan literasi keuangan di 6 Provinsi dan 18 Kabupaten dengan sasaran 50 ribu petani. Penyuluh dan Fasilitator Desa dilatih, dibekali kemampuan agar mampu memberikan pendampingan manajemen keuangan kepada petani sampai dengan akses permodalan.

Pada kesempatan pertama pembukaan Pelatihan Traning of Trainer (TOT) Literasi Keuangan yang dilaksanakan di Balai Diklat Provinsi Anjongan Provinsi Kalimantan Barat, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Leli Nuryati menyampaikan Penyuluh dan Fasilitator Desa sebagai ujung tombak yang langsung berhubungan dengan petani, agar terus mendampingi dan mengawal agar usaha tani petani binaannya sukses,”. Pengelolaan keuangan di petani sangat penting dikawal karena ini jalan untuk memajukan bisnis petani untuk menjadi maju dan sejahtera (26/08/2021)

Pelatihan ini dilaksanakan berjenjang yang berlangsung selama 5 hari mulai tanggal 25 – 29 Agustus 2021,  TOT Penyuluh dan Fasilitator Desa dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat, serta didukung Tim Trainer Widyaiswara dari PPMKP Ciawi Jawa Barat, BBPKH Cinagara Jawa Barat, BBPP Kupang dan BBPP Binuang Kalimanta Selatan.

Setelah pelatihan ini diharapkan Penyuluh dan Fasilitator Desa  dapat mengaplikasikan langsung ke petani untuk pendampingan pengelolaan keuangan rumah tangga dan manajemen keuangan usahatani bagi petani.