Dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Pertanian RI mendorong petani untuk manfaatkan marketplace (penyedia belanja online) dalam memasarkan hasil panen berupa produk olahan, misalnya beras bukan gabah dan hasil pertanian lainnya.

Hal ini merupakan arahan langsung Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang mendukung kegiatan olah lahan dan olah tanah. SYL mewajibkan seluruh Petani untuk memastikan tetap berproduksi dan diharapkan produksi tidak mengalami penurunan.

“Kita harus pastikan ketersediaan pangan jangan sampai kendor. Dengan tegas Kementerian Pertanian mendorong Kerjasama dan koordinasi dengan pihak terkait untuk mendukung kegiatan Pertanian. Pertanian Indonesia tidak boleh melemah, dalam keadaan” tegas SYL.

Dedi Nursyamsi, Kepala  Badan PPSDMP menambahkan bahwa peluang bisnis pertanian terbuka sangat lebar dengan menggandeng situs belanja online, yang layanannya menjangkau seluruh pelosok negeri asalkan telah terjangkau layanan internet.

“Kita gabungkan kelebihan untuk mengatasi kendala masing-masing, seperti marketplace,  lalu gunakan BPP KostraTani sebagai lembaga di kecamatan yang mewadahi kepentingan dan kebutuhan petani,” ujar Dedi.

Adapun syarat berniaga di marketplace tidaklah rumit, asalkan produk lokal yang dipasarkan telah memenuhi syarat pemasaran online. Apabila produk makanan olahan, harus didukung legalitas Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM)

Untuk pemasaran beras, yang  tergolong pangan olahan dan bukan makanan olahan sudah diatur oleh Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) setelah melalui uji mutu dan pendaftaran administrasi. Kementan melansir regulasi dimaksud yakni Permentan No 51/2008 tentang Syarat dan Tatacara Pendaftaran; Permentan No 31/2017 tentang Kelas Mutu Beras dan Permentan No 57/2017 tentang Beras Khusus. Sementara Permendag No 572017 mengatur tentang Beras Khusus.

Lewat Program Rural Empowerment Agricultural and Development Scaling Up Initiative (READSI), Kementerian Pertanian berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia hingga ke level petani sasaran Program READSI.

Hadir di 6 Provinsi dan 18 Kabupaten. Program READSI memiliki tujuan meningkatkan penghidupan petani kurang mampu di daerah sasaran. Diantaranya mendorong keterlibatan perempuan, perbaikan gizi keluarga hingga dorongan untuk simpan pinjam lewat kelompok tani per komoditas dan yang terpenting dukungan terhadap akses pasar.

Salah satu kelompok sasaran READSI yang berasal dari Kabupaten Sanggau, yakni kelompok tani telah mengeluarkan produk beras organik, beras merah organik dan beras hitam organik.

Fasilitator Desa READSI, Fransiska menuturkan bahwa produk olahan Kelompok Kamboja yang berupa beras organik, beras merah organik dan beras hitam organik sudah dipasarkan online sejak Oktober 2020. Ini merupakan Langkah yang baik pagi petani dalam memasarkan produknya.

“Berkat dukungan Program READSI, petani jadi lebih termotivasi, salah satunya untuk produksi bahan bahan organic yang memiliki harga lebih tinggi dipasaran. Harga jual beras organik yang putih dijual dengan harga 16.000/kg dan  beras organik merah harga jualnya mencapai 20000 rb /kg”, ujar Fransiska