Kegiatan Sekolah Lapang Komoditi Bawang Merah Desa Ilomangga Kecamatan Tabongo Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo

Sebagai salah satu komoditas penting, bawang merah  merupakan suatu kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat. Hal ini yang mendorong Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo, Lewat Program READSI terus berupaya memenuhi dan memberikan dukungan baik moril maupun materil agar pelaksanaan Sekolah Lapang dapat memberikan dampak positif bagi petani berada di Desa Ilomangga Kecamatan Tabongo.

Melalui Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling Up Initiative (READSI) Fasilitator Desa bersama Penyuluh di desa Ilomangga berupaya mengubah pola pikir dan pola tindak anggota kelompok tani soal budidaya tanaman bawang merah yang selalu dianggap sebagai tanaman yang rewel dan sulit untuk dibudidayakan menjadi komoditi yang ramah dan bernilai ekonomi tinggi bagi petani khususnya yang tergabung dalam Kelompok Ilomata.

Pada pelaksanaan Sekolah lapang di pertemuan ke-9, DPMO Kabupaten Gorontalo bapak Suparno Hasan  Pada tgl 25 Februari 2020 turun langsung di lokasi Laboratorium lapangan di salah satu lahan anggota kelompok  atas nama Bapak Halidun Ahmad yang berlokasi di dusun Ilomangga Utara. Pak Suparno membantu Penyuluh dalam memberikan edukasi terhadap proses penanaman Bawang Merah seperti halnya cara membuat bedengan yang ideal dan pengapuran yang maksimal. Dilanjutkan pada pertemuan ke-10 tepatnya tanggal 27 Februari, bapak Suparno Hasan juga kembali melakukan praktek untuk memberikan edukasi terkait dengan cara milih benih unggul dan cara menanam umbi bawang merah bahkan cara  pengairan pun beliau praktekan pada kesempatan itu.

Selaku salah satu tim dalam DPMO Kabupaten beliau bertanggung jawab penuh terhadap kesuksesaan pelaksanaan SL dan beliau juga berharap dengan adanya kegiatan SL Hortikultura Komoditi Bawang merah di desa Ilomangga ini akan berdampak pada peningkatan sektor produksi, dimana awalnya untuk penanaman dengan 50 kg bibit bawang merah hanya menghasilkan 200 kg bawang merah. Setelah adanya SL untuk penanaman 50 kg bibit bawang merah dapat menghasilkan 600-700 kg berat basah sehingga dapat disimpukan dengan adanya pelaksanaan SL bawang merah ini petani dapat meningkatkan hasil produksinya sehingga akan berdampak pada kesejahtraan petani itu sendiri.

Pada prinsipnya Petani menyambut positif program READSI, hal ini dibuktikan dengan adanya 20 orang anggota yang turut andil pada pelaksanaan sekolah lapang karena disamping petani menerima langsung materi juga dapat langsung mempraktekkannya di lapangan. Setelah para petani ini selesai mengikuti kegiatan SL maka kegiatan selanjutnya mereka (Kelompok Ilomata) khususnya Pengurus Kelompok akan melakukan peguatan kelembagaan kelompok dan penataan administrasi khususnya buku kas dan buku rekening Kelompok untuk proses penyerapan dana bantuan Readsi.

(Lius Hasan, Fasilitator Desa)