JAKARTA – Naiknya harga Sarana Produksi Pertanian (saprodi) yang tidak berbanding dengan harga hasil panen komoditas pertanian membuat petani Wonggarasi Tengah memutar otak menyusun strategi untuk menekan biaya produksi.

Strategi tersebut diramu melalui rapat rutin kelompok tani (Poktan) yang difasilitasi penyuluh dan fasilitator desa Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling-up Initiative (READSI).

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, mekanisasi dan penggunaan teknologi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam pembangunan pertanian modern.

“Bapak Presiden menyampaikan bahwa penerapan teknologi pertanian diharapkan mampu menekan biaya produksi menjadi lebih murah, sehingga menciptakan harga yang kompetitif dari produksi komoditas pertanian nasional,” kata Mentan.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan, di era industri 4.0 para petani milenial harus mengembangkan teknologi Bio Science yang berkembang pesat.

“Artinya, produktivitas harus digenjot guna memenuhi permintaan kebutuhan pasar. Maka dari itu, Bio Science dan Bio Technology harus kita galakkan terkhusus para petani milenial,” ujar Dedi.

“Maksimalkan penggunaan Alsintan dan mentransformasi alat alat kuno ke alat alat yang lebih modern bisa membantu menggenjot produktivitas pertanian indonesia, menghemat tenaga, waktu dan lebih efisien dalam pemanfaatan lahan,” tambahnya.

Disebutkan dalam pertemuan rutin petani Wonggarasi Tengah itu bahwa faktor utama untuk mengurangi buget pengeluaran biaya produksi ialah tersedianya fasilitas Alsintan yang memadai sebagai kebutuhan dasar pendukung pengolahan hasil dan pasca panen.

Penyuluh Pendamping Program READSI Desa Wanggarasi Tengah, Sutarjo Asman, pada pertemuan rapat rutin Poktan Cabe Jaya mengatakan, kemandirian poktan sejak dini harus di kedepankan, melalui kekompakan dan kerja sama yang baik antarsesama anggota.

“Sebab terus menerus mengaharapkan bantuan dari pemerintah itu hal yang mustahil terjadi,” tutur Sutarjo, yang juga Kepala Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Lamito.

Fasilitator Desa READSI, Herson Lebie menambahkan bahwa pengadaan Alsintan dari READSI 70 persen dan 30 persennya akan ditanggung kelompok secara swadaya melalui simpanan dan tabungan.

“Skema bantuan fasilitas Alsintan 70 persen dan 30 persen ini perlu diseriusi, dimana biaya pengadaan Alsintan 70 persen akan dibiayai READSI dan 30 persen akan ditanggung kelompok secara swadaya melalui simpanan dan tabungan,” tuturnya.

Hal ini mendapat respon positif dari seluruh anggota Poktan yang hadir pada rapat rutin tersebut. Seluruh anggota Poktan menyepakati secara bersama jumlah iuran yang akan setor dan jenis alsintan apa yang skala prioritas dibutuhkan oleh kelompok itu sendiri, melalui penyusunan rencana usaha kelompok (RUK).

“Saya atas nama Kelompok Sinar Bisi sangat besyukur menjadi bagian program READSI. Bantuan ini sangat membantu kami masyarakat kecil di desa, dan model bantuan seperti ini tidak kami temui di program pemberdayaan lainnya,” ujarnya Febriyanto Husain selaku Ketua Poktan Sinar Bisi Desa Wanggarsi Tengah.