Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), terus berupaya meningkatkan kapasitas SDM Pertanian. Hal ini dilakukan untuk mendukung mewujudkan kedaulatan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan bahwa peningkatan kualitas SDM menjadi salah satu fokus Kementerian Pertanian. “Dengan SDM yang berkualitas, kita akan meningkatkan produktivitas pertanian,” ujarnya.

Kepala BPPSDMP kementan, Dedi Nursyamsi, juga mengatakan pentingnya peningkatan SDM. “Jika ingin pertanian maju, majukan dahulu kualitas SDM. Karena SDM yang berkualitas bisa menghadirkan inovasi dan terobosan-terobosan yang dibutuhkan pertanian,” kata Dedi.

Salah satu program Kementan untuk mendukung peningkatan kualitas SDM pertanian adalah READSI, akronim dari Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling-up Initiative. Program ini dilaksanakan sejak 2008 sampai 2014 pada lima Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah. Pendanaannya berasal dari Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) dari International Fund for Agricultural Development (IFAD). Proyek READSI dinilai sebagai proyek yang berhasil oleh Bappenas.

Tujuan Proyek READSI adalah memberdayakan rumah tangga di pedesaan di Sulawesi, Kalimantan Barat dan NTT, baik secara individu maupun secara kelompok, dengan keterampilan, membangun rasa percaya diri dan pemanfaatan sumberdaya untuk meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian dan non-pertanian serta meningkatkan taraf hidupnya secara berkelanjutan.

Contoh keberhasilan READSI terlihat pada kelompok tujuh kelompok tani (poktan) tani binaan di Desa Kalahunde, Kecamatan Pakue Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara. Di wilayah tersebut, Aisa Rauf selalu memonitor dan mengevaluasi kegiatan poktan tersebut. Aisa adalah Tenaga Ahli Pemberdayaan Provinsi Sultra serta Dinas Pertanian dan Hortikultura kabupaten Kolaka Utara.

Aminah, salah seorang anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) menceritakan manfaat yang didapat dari program READSI. Mulai dari pelatihan SL, bantuan saprodi, hingga bantuan alsintan. Hasil panen kelompok tani juga meningkat. Penggarapan lahan yang sebelumnya tidur berubah menjadi lahan produktif dan meningkat sekitar 90 persen.

“Anggota KWT yang awalnya membeli sayur, kini telah menjual sayur dari pekarangan rumah. Rata-rata pendapatan yang diperoleh oleh anggota berkisar Rp. 30.000 sampai Rp.70.000 per sekali panen sayur,” ucap Aminah.

Ia berharap hasil evaluasi dari kegiatan KWT perlu ditingkatkan agar dapat memberikan kesejahteraan kepada para anggota. Para ibu juga terus bersemangat dan bekerja keras meningkatkan keaktifan dalam pertemuan kelompok maupun kegiatan lainnya.