Mentan menjelaskan produk kakao dalam negeri mempunyai cita rasa berbeda dengan cokelat dari negara lain, karena indonesia termasuk negara tropis. Selain itu industri pengolahan kakao, di tengah pandemi Covid-19, imbuh Mentan, masih tetap memiliki prospek tinggi karena cokelat menjadi kebutuhan masyarakat dunia.

“Cokelat kita ini berbeda dengan coklat yang dihasilkan Negara lain seperti di Afrika. Karena itu cokelat kita ini masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat dunia. Cokelat adalah bisnis yang tidak pernah terpengaruh oleh apapun termasuk adanya pandemi ini. Jadi jangan khawatir, “ ungkap Mentan

Bahkan, imbuh SYL, harga kakao tidak pernah jatuh meski di tengah lesunya perkonomian saat semua lini industri dihantam pandemi Covid-19. Alasannya karena setiap orang akan butuh imun yang lebih baik, dengan banyak mengonsumsi cokelat menjadi tubuh sehat.

Salah satu bentuk kerjasama antara Pemerintah dalam hal ini adalah Program READSI dengan pihak swasta/PT. MARS Symbioscience adalah pelatihan agronomi kakao bagi petani. Bentuk kerjasama tersebut telah dituangkan dalam Nota Kerjasama dan telah dilaksanakan sejak Juli 2018. Nota Kerjasama tersebut bertujuan untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian Petani, Penyuluh, Widyaiswara serta Dosen Guru SMKPP di UPT Pusat dan Daerah.

Pelatihan tersebut juga merupakan salah satu bentuk komitmen Program READSI dalam upaya peningkatan produksi kakao yang berkualitas dan berkelanjutan. Kegiatan ini merupakan upaya mendukung program Kementerian Pertanian menjadikan petani Maju, Mandiri, Modern. yang tergabung di dalam Program READSI kerjasama dengan PT.MARS

Selama kurun waktu empat tahun, Program READSI dan MARS berkomitmen untuk melatih 555 orang dengan berbagai macam pelatihan, diantaranya pelatihan teknis Agronomi Kakao, Bisnis Kakao, Master TOT dan Monitoring dan Evaluasi (Adoption-Observation).

Pada pembukaan Pelatihan Agronomi Kakao bagi  18 peserta petani untuk Batch Vl yang dilaksanakan di CDC Academy- Kab. Luwu Utara Sulawesi Selatan pada 5 Juli 2021.

Kepala Pusat pelatihan pertanian dalam sambutannya mengatakan bahwa program READSI tidak lain  bertujuan untuk meningkatkan kesejahtraan petani di 5 provinsi  Indonesia. Oleh karenanya program ini berfokus pada pelatihan, Manajemen kelompok, serta meningkatkan SDM yang handal di bidang pertanian.

Pelatihan ini adalah pelatihan “mahal” yang merupakan bentuk investasi Program READSI sebagai apresiasi untuk petani terpilih binaan program dalam upaya mengembangkan kakao dan peningkatan kapasitas SDM petani kunci. Arah pengembangan ini ditujukan pada penumbuhan Cocoa Doctor/Petani Inovatif di tiap desa sasaran program READSI yang diharapkan dapat memberikan solusi peningkatan produktivitas tanaman dan pendapatan petani kakao.

“saya berharap kepada peserta yang mengikuti pelatihan agronomi kakao Bach VI dapat memaksimalkan pelatihan ini agar menjadi Cocoa Doctor yang suskses  sehingga menjadi pioner bagi petani lainnya. juga dapat meningkatkan penadapatan dari segi ekonomi menuju kesejahteraan.”ujar Lely Nuryati.

Mudatsir sebagai trainer Cocoa Doctor mengatakan Indikator program dinyatakan berhasil apabila setelah pelatihan para petani kakao ini dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatkan selama pelatihan di lahan masing-masing, karena hasil akhir program ini adalah peningkatan pendapatan petani melalui peningkatan produktivitas, hal ini hanya terjadi jika petaninya kompeten dan mereka mengadopsi apa yang sudah mereka dapatkan selama pelatihan.”

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi, mengingatkan bahwa sektor pertanian membutuhkan sosok penyuluh yang pintar, gesit dan cerdas karena problem pertanian makin kompleks. “Penyuluh itu sahabatnya petani. Penyuluh yang pintar akan mentransfer ilmu ke petani. Kalau petani pintar, berarti dia mampu mengatasi hama dan penyakit pada tanaman serta mampu meningkatkan produktivitasnya. Keberhasilan pertanian adalah meningkatkan produktivitas, yang bisa tercapai kalau penyuluhnya pintar,” kata Dedi Nursyamsi.