Bone Bolango –  Bagi sebagian orang, terutama mereka yang menggemari aktivitas menanam tanaman, berkebun menjadi salah satu hobi yang menyenangkan. Kegiatan bercocok tanam saat physical distancing di tengah pandemi Virus Corona tentunya bisa dilakukan. Kegiatan di rumah terkadang sering membosankan, apalagi diam di rumah hampir berminggu-minggu. Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui dengan jelas bagaimana menggunakan pemanfaatan lahan sempit tapi produktif, sehingga mampu mengasah kreatifitas penanam untuk menciptakan media baru yang lebih sederhana dan dapat meningkatkan kualitas dan hasil produksi yang maksimal tapi dengan low budget. Hal ini sejalan dengan himbauan Menteri Pertanian di sela- sela kunjungan di NTT. Dalam suasana pandemi ini, bisa jadi krisis ekonomi berlangsung lama dan pertanian adalah tumpuan perekonomian kita, untuk itu harus selalu didorong jangan sampai berhenti,” jelas Mentan SYL.

Kreatifitas tanpa batas tampaknya pantas disematkan kepada salah satu anggota kelompok tani KWT Melati Ibu Sarlota Bijuni. Tidak perlu menggunakan peralatan canggih, dengan memanfaatkan barang bekas tetap bisa melakukan kegiatan yang sangat bermanfaat tersebut. Bahan yang digunakan seperti ban mobil/motor, kaleng susu, botol air mineral, bekas kemasan sabun detergen dapat dibuat sebagai pengganti polibag.

Dengan luas lahan 10×15 m disamping rumahnya dimanfaatkan untuk kreatifitas dalam mengolah lahan pekarangan yang sempit ucap Fetra sebagai Fasilitator Desa yang mendampingi Kelompok Melati  Desa ilohuuwa, Kecamatan Bone Kabupaten Bone Bolango. Di usianya yang menginjak 41 tahun dan memiliki 3 orang anak namun tidak mengurangi semangatnya. KWT  Melati termasuk dalam Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling-up Initiative (READSI) merupakan inisiasi perluasan Proyek Rural Empowerment and Agricultural Development (READ) yang dilaksanakan pada tahun 2008 sampai dengan 2014 di 5 Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tengah dengan pendanaan Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) dari International Fund for Agricultural Development (IFAD).

Disamping  itu, beliau juga tidak ketinggalan informasi terutama tentang perkembangan teknologi pertanian. Hal ini terlihat dari pengaplikasian prinsip sistem vertikultur dan terasering pada  tanaman kangkung darat dan bawang batang. Uniknya semua bahan dasar pembuatan sistem teknologi ini terbuat dari bahan bekas, seperti bambu, kayu, pipa bekas serta bekas botol air mineral.

Selain dapat dijadikan media tanam, pemanfaatan botol bekas juga dapat mengurangi sampah rumah tangga serta mampu menjadikan nilai ekonomis, sebab jika menggunakan barang bekas kita tidak perlu membeli bahannya karena dapat diperoleh secara gratis.

“saya bersyukur ada Program READSI seperti ini di Desa Ilohuuwa, sebab ini sangat membantu kami para ibu rumah tangga dalam mengakses berbagai informasi tentang pertanian serta cara memaksimalkan pemanfaatan lahan pekarangan. Di samping itu Fasilitator Desa dan Penyuluh juga sangat maksimal dalam mendampingi kami terutama untuk memberi berbagai informasi tersebut. Ungkap Ibu Sarlota Bijuni. “Tugas penyuluh dalam masa pandemi Covid-19 tidak mudah. Mereka harus terus mendampingi petani dengan turun ke lapangan. Penyuluh bersama petani harus memastikan produksi pertanian tidak berhenti. tutur Dedi Nursyamsi.

Pemanfaatan botol bekas untuk media tanam juga berguna untuk mengurangi terjadinya pencemaran lingkungan yang mengurangi keindahan lingkungan itu sendiri. Apalagi sampah plastik ini tidak dapat diurai oleh mikroba pengurai sehingga sangatlah sulit untuk membusuk, jika memilih untk membakarnya justru akan mencemari udara dan apabila terhirup dapat membahayakan kesehatan tubuh penghirup (manusia).

Demi menjaga ketersedian pangan nasional Percepatan tanam pasca panen menjadi prioritas saat ini. Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Bustanul Arifin Caya, berpesan agar seluruh Fasilitator Desa dan penyuluh, khususnya petani dapat menjaga kesehatan diri maupun keluarga yang ada di rumah. “menjaga jarak itu wajib dan jangan lupa mencuci tangan, dan mengonsumsi makan-makanan yang bergizi agar daya tahan tubuh meningkat, dengan tubuh yang kuat  maka kita dapat berkontribusi lebih dalam memastikan keamanan ketersediaan pangan”, ujar Bustanul.