Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) memastikan bahwa pertanian menjadi sektor penentu di situasi sekarang ini. SYL menjelaskan bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) periode Mei-Agustus 2020 mengalami penumbuhan. Selain itu SYL juga menjelaskan bahwa ekspor pertanian memperlihatkan angka yang positif. Tercatat nilai ekspor pertanian pada Juli 2020 mencapai Rp 35,82 triliun atau meningkat 23,30 persen dibanding ekspor bulan lalu lalu yang hanya Rp 29,05 triliun

“Sektor lain mengalami dampak yang besar, tapi saya yakin pertanian bisa terus tumbuh sehingga masalah pangan dan perekonomian nasional bisa baik-baik saja. Pertanian memegang peran penting dalam pemulihan ekonomi, di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia,” pungkas Mentan

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyatakan bahwa penting membangun SDM pertanian yang berkualitas. Dedi juga menegaskan bahwa semua harus siap untuk mengahadapi Industri 4.0 lewat penguatan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di Kecamatan dalam pengimplementasian Kostratani.

“Dengan industri 4.0, detik ini juga saudara-saudara kita di Papua bisa belajar. Gurunya bisa dari Bogor, atau dari Jakarta. Bahkan beberapa waktu lalu petani dari Sorong dan dari Jayapura melakukan presentasi, membagikan pengalaman bagaimana cara menanam ubi yang bagus melalui virtual,” tegas Dedi.

Sesuai arahan Kepala Badan PPSDMP yang menyatakan pentingnya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan khusunya bagi penyuluh dan petani. Oleh karenannya Program READSI mendukung penuh kegiatan pelatihan serta peningkatan keterampilan bagi petani di wilayah program, tidak terkecuali kaum wanita yang terkumpul di Kelompok Wanita Tani (KWT).

Guna mendukung perbaikan gizi keluarga di wilayah Program READSI lewat keterlibatan wanita, bersama Penyuluh Pertanian Kecamatan Ogodeide Agus melaksanakan Sekolah Lapang (SL) non farm. Pada kesempatan kali ini, Agus bersama Fasilitator Desa Kamalu, Kasman memberikan materi kerajinan tangan dari sabut dan batok kelapa untuk dijadikan pot bunga dan hiasan.

“Semoga kedepannya bermanfaat dan mampu menunjang ekonomi keluarga tani sesuai dengan tujuan Program READSI. Dalam hal penjualan kami bekerja sama dengan Badan Usaha Desa (Bumdes) untuk satu pot kami jual Rp 20.000-Rp. 25.000.”, ujar Agus

Kasman juga merasa sangat senang “Ya, READSI memberikan peluang lebih bagi Petani, tidak terkecuali ibu-ibu. Ada pun bahan dan alat untuk pembuat aneka pot dari sabut kelapa sangat mudah yaitu sabut kelapa yang kering, lalu kawat ram, gunting pemotong kawat”.

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Bustanul Arifin Caya selalu mengingatkan agar seluruh tim, khususnya Petani dan Penyuluh Pertanian dapat menjaga kesehatan diri dan keluarga lewat protokol kesehatan dalam rangka penanganan penyebaran Covid-19. “makan-makanan seimbang, jangan lupa cuci tangan dan usahakan konsumsi vitamin/jamu agar meningkatkan imunitas tubuh kita, karena kalau kita sehat maka kita dapat berkontribusi lebih di sektor pertanian”, tegas Bustanul.