Luwu – Sebagai salah satu alternatif pengendalian serangga hama tanaman, penggunaan pestisida nabati dinilai aman digunakan. Proses pembuatannya pun tidak sulit. Pestisida ini dibuat dengan menggunakan bahan baku yang mudah ditemui. Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya adalah tumbuhan. Pestisida nabati relatif mudah dibuat dengan bahan dan teknologi yang sederhana. Bahan bakunya yang alami/nabati membuat pestisida ini mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan. Pestisida ini juga relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang.

Dengan adanya Covid-19 ini kita semakin menyadari bahwa pertanian tidak boleh lagi diolah dengan cara yang biasa. Harus ada inovasi dan ide-ide kreatif dalam mengelola pertanian, Di masa new normal, yang memiliki prospek untuk menghidupi masyarakat ada di sektor pertanian” ucap Mentan.

Kegiatan Sekolah Lapang yang diadakan di Desa Bukit Harapan Kecamatan Boa Kabupaten Luwu, bagi poktan bangkit dan poktan senyawa komoditi Kakao dengan tema pengamatan hama dan pemangkasan tangkai batang serta pembuatan pestisida nabati untuk penanggulangan hama dan penyakit oleh Bapak Sadar sebagai pemateri. Seluruh peserta SL sangat pro aktif dalam kegiatan ini, dari pengamatan hama sampai pembuatan pestisida nabati.

Pestisida nabati bersifat “pukul dan lari” (hit and run), saat diaplikasikan akan membunuh hama saat itu juga dan setelah hamanya mati, residunya akan hilang di alam. Dengan demikian produk terbebas dari residu pestisida sehingga aman dikonsumsi. Bahan yang di gunakan adalah, jahe 200 gr, daun sirsak 200 gr, bawang putih 200 gr, daun pepaya 200 gr ke semua bahan ini di tumbuk sampai halus. Pestisida nabati menjadi alternatif pengendalian hama yang aman dibandingkan pestisida sintetis. Penggunaan pestisida nabati memberikan keuntungan ganda, selain menghasilkan produk yang aman, lingkungan juga tidak tercemar.

Pestisida organik ini mampu mengatasi dan mengusir hama perusak tanaman pertanian dan perkebunan umumnya seperti kutu, ulat, belalang dan sebagainya. Harapan Fasilitator Desa dengan adanya Sekolah Lapang ini dapat menambah ilmu dari Petani sehingga hasil olah tanam yang dilakukan dapat lebih maksimal. Sesuai himbauan Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Bustanul Arifin Caya, yang mengingatkan pentingnya mengikuti Protokol Kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. “konsumsi makanan yang sehat yang terpenting patuh terhadap protokol kesehatan dalam melaksanakan aktivitas, kalau kita sehat maka kita dapat berkontribusi lebih di bidang pertanian di tengah pandemi Covid-19 saat ini”, ujar Bustanul.