Kementerian Pertanian dibawah komando Mentan Syahrul Yasin Limpo telah merumuskan target–target pembangunan pertanian hingga 2024 nanti tagline yang diusung adalah Pertanian Maju, Mandiri dan Modern. Salah satu program yang digalakkan Kementerian Pertanian adalah Gedor Horti, yaitu gerakan mendorong produksi, daya saing dan ramah lingkungan hortikultura.

Sebagai salah satu komoditas penting, ketersediaan bawang merah  adalah sesuatu yang mutlak. Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan benih bawang merah secara mandiri.

Melalui Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scaling Up Initiative (READSI) Penyuluh di desa Molawahu Kecamatan Tibawa kabupaten Gorontalo berhasil mengubah mindset anggota kelompok tani soal budidaya tanaman bawang merah yang awalnya dianggap sebagai tanaman rewel dan sulit untuk dibudidayakan menjadi komoditi yang ramah bagi petani serta bernilai ekonomi tinggi.

DPMO Kabupaten Gorontalo melakukan Monitoring Evaluasi dampak pelaksanaan Sekolah Lapang READSI di Desa Molowahu, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo pada tgl 21 Februari 2019,  diantaranya diisi dengan Kegiatan Panen Bawang Merah kelompok tani Pangan Sari yang berlokasi di lahan salah satu anggota kelompok tani Hortikultura (bawang merah) atas nama Bapak Hamid Hunowu.

Dari hasil diskusi dengan ketua kelompok tani Pangan Sari, Hamid Hunowu dan anggota kelompok tani, diperoleh informasi luas lahan yang ditanami seluas 0,25 Ha, waktu penanaman pada tanggal 23 desember 2019 menggunakan bibit Varietas Tajuk sebanyak 25 kg. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kandang dengan pupuk susulan NPK, Phonska, dan pupuk organik cair.

Dengan adanya SL Hortikultura Komoditi Bawang merah di desa Molowahu ini berdampak pada peningkatan produksi, dimana awalnya untuk penanaman dengan 50 kg bibit bawang merah hanya menghasilkan 200 kg bawang merah. Setelah adanya SL untuk penanaman 25 kg bibit bawang merah dapat menghasilkan 665 kg berat basah sehingga dapat disimpukan dengan adanya pelaksanaan SL bawang merah ini petani dapat meningkatkan hasil produksinya. Hamid Hunowu menambahkan, kendala utama yang dialami selama penanaman bawang merah ini adalah iklim yang tidak menentu, dan juga kurangnya ketersediaan air di lokasi penanaman serta ketersediaan bibit untuk ditanam anggota kelompok.

Petani menyambut positif program Readsi ini karena setelah menerima materi dapat langsung mempraktekkannya di lapangan. Sampai saat ini sudah 13 peserta SL Bawang Merah desa Molowahu yang sudah mengaplikasikannya  di lahan masing masing.

Program  READSI  telah  berhasil  memberdayakan  petani  kecil, meningkatkan  pendapatan  dan produksi  serta memperkuat  kelembagaan  di desa melalui satu paket lengkap program pemberdayaan  yang terintergrasi termasuk akses langsung dengan konsumen. Sebagian petani memanfaatkan hasil panen untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan sebagian sudah dapat di jual dipasar.

(Tim Monev  Kabupaten Gorontalo)