Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan bahwa kegiatan pertanian harus berjalan ditengah pandemic. Sebagai upaya dalam memenuhi arahan langsung Presiden untuk memastikan ketersediaan pangan bagi 267 Juta penduduk Indonesia. “Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak boleh tertunda apalagi berhenti walaupun di tengah pandemi global Covid-19”, tegas Mentan. Begitu pula dengan kegiatan yang langsung bersentuhan langsung dengan petani dan berdampak bagi ketersediaan pangan nasional. Percepatan tanam menjadi kunci dalam menjaga ketersediaan pangan di beberapa bulan kedepan.

Pernyataan Mentan terkait kegiatan yang harus berjalan didukung penuh oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi yang menyatakan bahwa “masalah pangan adalah masalah yang sangat utama dan dapat mempengaruhi hidup matinya suatu bangsa”. Oleh karena itu pemerintah akan terus mendukung seluruh kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pertanian yang langsung berdampak pada ketersediaan pangan. Kegiatan percepatan tanam, olah lahan dan panen harus tetap berlangsung di tengah kondisi seperti saat ini, demi menjaga ketersediaan pangan nasional kedepannya.

Sesuai program nasional untuk mendorong dan menghidupkan perekonomian di daerah tertinggal, terdepan dan terluar, READSI hadir untuk mendorong kegiatan pertanian di daerah tersebut. Diantaranya wilayah di Provinsi Kalimantan Barat (Kabupaten Sanggau dan Sambas) dan wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Kabupaten Kupang dan Belu). Penetapan daerah tersebut berdasarkan peraturan Presiden Nomor.131 Tahun 2015 Tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019 dan Surat Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional.

Bentuk dukungan READSI pada kelompok sasaran lewat pendampingan yang terus dilakukan ditengah pandemi. Kelompok sasaran READSI didorong untuk melakukan penanaman pasca panen. Dilahan petani penerima manfaat program Bersama dengan penyuluh pertanian dan fasilitator desa melakukan panen padi di desa Tuakau kecamatan Fatuleu Barat.

Penyuluh Pertanian desa Tuakau, Adrianus Bere mengaku senang dengan peningkatan hasil panen salah satu petani di desa Tuakau. “Bersama fasilitator desa Zandy Zayd, kita ikut panen di lahan milik Defen Efesus Anin dengan Luas Lahan sekitar 1 Ha. Hasil Panen sebelum mengikuti SL READSI sekitar 7,2 Ton / Ha dan puji tuhan sekarang hasil panen setelah SL menjadi 8.4 Ton/Ha”, ujar Defen

“Jelas kami sangat bersyukur dengan hasil panen saat ini, hasilnya ada peningkatan nyata di jumlah padi yang kami panen dan kedepannya kami akan membuat   perpipaan untuk pengairan ke lahan persawahan”, jelas Defen.

Walau Mentan menegaskan bahwa kegiatan pertanian harus tetap berjalan, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Bustanul Arifin Caya berpesan agar seluruh tim, terlebih petani dapat menjaga kesehatan diri dan keluarganya. “panen, tanam, harus tetap dilakukan tapi tetap ikuti protocol keamanan bagi kesehatan, jangan lupa cuci tangan, jaga jarak, pakai masker serta konsumsi makanan yang sehat serta seimbang, karena kalau kita sehat maka kita dapat berkontribusi lebih di sektor pertanian”, ujar Bustanul