Kendari – Program Rural Empowerment and Agricultural Development Scalling Up Initiative (READSI). Capaian program di Sultra masih 30%  sejak tahun 2019 dimulainya program. Hal ini di akibatkan bencana alam yaitu pandemi covid-19 ,” Ujar Muhammad judul.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara juga menyampaikan bahwa dengan adanya Program READSI, serta kehadiran para Fasilitator Desa maka bisa mendekatkan kesejahteraan bagi petani dengan hasil yang terukur, melalui ilmu, pendampingan, akses pasar dan akses modal. Saat kegiatan koordinasi pengawalan program READSI dan peningkatan kapasitas Fasilitator Desa, di Hotel Claro Kendari.( 30/3/2021)

Kurangnya serapan anggaran menurut Bayu Rahmawan sebagai Manager NPMO disebabkan ketidakpahaman dan kurangnya koordinasi yang baik antara pemerintah daerah dan legislatifnya, sehingga diperlukan komunikasi dan koordinasi tentang mekanisne pembiyaan Program READSI.

“Kalau dilihat tagline IFAD, Investing in Rural People, tujuan READSI bermaksud untuk meningkatkan kesejahteraan petani keluarga miskin di pedesaan baik individu maupun kelompok, untuk meningkatkan taraf hidup secara berkelanjutan. Implementasi dimulai sejak tabun 2019 dan di tahun 2021 program di fokuskan pada kapasitas pertanian yang lebih beskala formal, bagaimana membangun korporasi petani di akhir project,” ungkap Bayu Rahmawan.

Bayu Rahmawan menekankan Manager READSI DPMO di tiga kabupaten yang hadir, agar konsen pada pengelolaan mekanisme keuangan jika ingin serapan anggaran menjadi baik sehingga bermanfaat bagi poktan.

Tujuan kegiatan ini ialah meningkatkan kemampuan dan keterampilan FD dalam memfasilitasi proses pemberdayaan kelompok yang di dampingi, Membentuk sikap positif FD dalam melaksanakan tugas pendampingannya, Sharing usulan pelatihan oleh widyaiswara untuk kebutuhan peningkatan kompetensi petani dan FD Program READSI.

Pertemuan ini dilaksanakan melalui  pendekatan lokakarya dengan metode ceramah/presentasi materi, Tanya jawab dan diskusi kelompok secara interaktif dan partisipatif yang di bawakan oleh TA provinsi dan TA kabupaten.

Kegiatan tersebut di hadiri oleh Fasiliatator Desa, DPMO, TA dan Widyaiswara dengan prokes Covid-19 yang ada guna untuk mengevaluasi kegiatan yang dilakukan di daerah  serta meningkatkan kualitas pendampingan poktan dan motivasi untuk Fasilitator Desa.