READSI – Mengaktifkan dan menggerakkan kelompok tani mungkin menjadi persoalan utama yang dihadapi Fasiltator Desa dan kalangan penyuluh pertanian. Salah satu kuncinya agar kelompok tani bisa berjalan dinamis adalah kedekatan penyuluh dan Fasilitator Desa dengan kelompok tani. Bagaimana caranya agar dekat? Tidak lain dengan seringnya melakukan kunjungan lapangan.

Meski kini petani bisa mendapatkan informasi teknologi pertanian dari internet dan segala hal yang berbau instan, sehingga ada kesan petani tidak lagi memerlukan pendampingan penyuluh. Namun kenyataan, petani tetap masih memerlukan bimbingan penyuluh pertanian dan Fasilitator desa pendamping.

Dalam Permentan No. 273/Kpts/Ot.160/4/2007  tentang Penumbuhan Kelompok Tani, sangat jelas dukungan SDM berkualitas melalui penyuluh pertanian dengan pendekatan kelompok yang dapat mendukung sistem agribisnis berbasis pertanian (tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan). Karena itu perlu dilakukan pembinaan dalam rangka penumbuhan dan pengembangan kelompok tani menjadi kelompok yang kuat dan mandiri untuk meningkatkan pendapatan petani dan keluarganya.

Saat ini, pertemuan rutin kelompok Program READSI  berjalan sesuai diprogramkan. Banyak yang terjadi saat penyuluh dan Fasilitator Desa berkunjung, petani lebih sering curhat kekurangan pupuk, bantuan yang tidak tepat sasaran atau tentang hama penyakit.

Salah satu tugas penyuluh pertanian  dan Failitator Desa adalah membina kelompok tani. Pembinaan kelompok tani diarahkan pada penerapan sistem agribisnis, peningkatan peran serta petani dan anggota masyarakat pedesaan lainnya, menumbuhkembangkan kerjasama antar petani dan pihak lainnya yang terkait untuk mengembangkan usaha tani.

Dengan pembinaan kelompok tani diharapkan dapat membantu  menggali potensi, memecahkan masalah usaha tani secara lebih efektif, dan memudahkan mengakses informasi, pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya.  Hal ini bisa dilihat dari organisasi kelompok tani yang kuat dan mandiri.

Ada beberapa cirinya. Pertama, adanya pertemuan/rapat anggota/rapat pengurus yang diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan. Dengan dihadiri penyuluh selaku fasilitator dan yang menyampaikan imformasi dari pihak  intansi terkait. Kedua, disusunnya rencana kerja kelompok secara bersama dan dilaksanakan oleh pelaksana sesuai kesepakatan bersama. Setiap akhir pelaksanaan dilakukan evaluasi secara partisipasi dengan melibatkan penyuluh.

Ketiga, memiliki aturan/norma yang disepakati dan ditaati bersama. Keempat, memiliki pencatatan/pengadministrasian organisasi yang rapih. Kelima, memfasilitasi kegiatan-kegiatan usaha bersama di sektor hulu dan hilir. Keenam, memfasilitasi usaha tani secara komersial dan berorientasi pasar. Ketujuh, sebagai sumber serta pelayanan informasi dan teknologi untuk usaha anggota kelompok tani.