Luwu Timur – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Luwu Timur melalui District Programme Management Office (DPMO) menggelar Pelatihan Literasi Keuangan bagi perwakilan rumah tangga petani penerima manfaat program Rural Empowerment and Agricultural Development Scalling-up Initiative (READSI).

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pelatihan literasi keuangan sangat penting untuk petani dalam rangka membangun konsepsi perencanaan yang terstruk terukur, terprogram, dan visible.

“Selain itu, pelatihan ini pun penting untuk membangun mindset baru, cara budidaya, prilaku petani yang lebih adaptif terhadap berbagai tantangan. Dengan begitu, usaha peningkatan produksi tidak terhambat dan kesejahteraan petani pun terjamin,” pinta SYL.

Ia menambahkan, pelatihan ini juga sangat penting terutama dapat memahami lebih luas sekaligus mengakses lebih besary Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digulirkan pemerintah, karena hingga saat ini sektor pertanian terakses dengan KUR dengan hasil yang baik.

“Oleh karena itu, ini menjadi titik sentral dan memperkuat KUR pada semua jenis komoditi pertanian. Bapak Presiden Jokowi menginstruksikan semua bank untuky menggulirkan KUR lebih agresif. Kredit KUR yang macet di tahun 2022 ini hanya 0,06 persen dan tahun sebelumnya 0,03 persen. Ini menunjukan petani cukup displin dan tulus mengelola dana KUR,” tutur Mentan

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menambahkan, pelatihan literasi keuangan bagi rumah tangga petani bertujuan memberikan pemahaman dalam penerapan pengelolaan keuangan rumah tangga dan usaha tani.

Selanjutnya, tambah Dedi, untuk meningkatkan rasa percaya diri rumah tangga petani sasaran dalam mengakses dan menggunakan fasilitas layanan keuangan KUR dan produk keuangan lainnya.

“Pelatihan ini didukung oleh IFAD untuk mensukses program Readsi. Tujuanya untuk mengelola kewirausahaan dan memberdayakan rumah tangga pedesaan dengan keterampilan dan percaya diri. Sehingga terjadi peningkatan pendapatan dan mata pencaharian rumah tangga petani secara berkelanjutan,” terang Dedi.

Pelatihan ini di laksanakan secara serentak di 324 Desa Lokasi program READSI se-Indonesia selama empat dari 20-23 Agustus 2022 yang mayoritas pelaksanaanya di aula atau balai pertemuan desa masing-masing wilayah READSI.

Pelatihan dihadiri langsung oleh Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Leli Nuryati, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Amrullah, Manajer READSI Kabupaten Luwu Timur Rahmatullah Aziz, Manajer Pelatihan PT. MARS Fajar Paulus Neong, Tim NPMO dan DPMO.

Leli menyampaikany pelatihan ini bertujuanmenumbuhkan kebersamaan di antara kelompok, melakukan perencanaan dan pengelolaan keuangan rumah tangga petani, meningkatkan inovasi dan strategi peningkatan produksi, serta strategi dalam peningkatan pendapatan petani.

Selain itu, lanjut Leli, READSI juga mendorong keterlibatan perempuan, perbaikan gizi keluarga serta pemupukan modal anggota melalui kegiatan simpan pinjam kelompok tani serta akses lembaga keuangan.

“Pengelolaan keuangan di petani sangat penting di kawal karena ini jalan untuk memajukan bisnis petani untuk menjadi maju dan sejahtera,” kata Leli pada hari kedua di Desa Tarengge, Minggu (21/10).

Sementara itu, Amrullah dalam sambutannnya mengatakan, khusus di Luwu Timur pelaksanaan kegiatan literasi keuangan berada di 6 kecamatan dan 18 Desa yang menjadi lokus penerima manfaat READSI.

Di Kecamatan Burau (Lumbewe, Jalajja, Benteng), Kecamatan Wotu (Tarengge, Lera Madani), Kecamatan Tomoni (Bayondo, Muliyasri, Bangun Jaya), Kecamatan Mangkutana (Sindu Agung, Wonorejo, Margolembo), Kecamatan Kalaena (Non-Blok, Argomulyo, Pertasi Kencana) dan Kecamatan Angkona (Maliwowo, Watangpanua, Tawakua).

Kadis DPKP Luwu Timur itu juga memohon untuk di berikan perpanjangan pelaksanaan kegiatan READSI di Luwu Timur dengan menu program READSI di perkaya dengan pengolahan pasca panen.

Sebelum menutup sesi pertemuan tersebut, Rahmatullah menyampaikan narasumber dalam kegiatan literasi keuangan di Kabupaten Luwu Timur berasal dari penyuluh pertanian pendamping program READSI dan Fasilitator Desa program READSI yang sebelumnya telah mengikuti Training of Traener (ToT) di Batangkaluku dan juga pihak perbankan (BNI dan BRI).

Namun untuk Desa Tarengge yang di kunjungi oleh Kapuslatan, narasumber yang membawakan materi hanya dari Fasilitator Desa di karenakan penyuluh pertanian di Desa tersebut sedang sakit dan di rawat di rumah
sakit.

Selain itu Kabid TPH ini juga menyampaikan harapan agar nasib Fasilitator Desa kedepannya lebih di perhatikan lagi, khususnya menyangkut honor dan pengangkatan minimal menjadi PPPK bagi Fasilitator yang telah mengabdikan dirinya sejak awal.