Sanggau – Covid 19, ini membuat semua ekonomi didunia menjadi lumpuh. Para ekonom global telah memprediksi ekonomi dunia dari tahun 2020 akan melambat. Tidak ada target suatu negara yang pertumbuhannya  sesuai dengan anggaran yang ditetapakan akibat terhentinya produksi, komsumsi dan aktivitas masyarakat yang terhenti untuk mencegah penularan virus covid 19.

Berbeda jauh dengan perkotaan yang ekonominya terhenti karena penerapan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), di pedesaan, ekonomi menggeliat karena permintaan terhadap produk pertanian meningkat seperti jahe merah, jahe gajah/putih, dan produk-produk pertanian lainnya yang banyak mengandung vitamin c untuk meningkatkan kekebalan tubuh.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL), menginstruksikan jajaranya untuk terus mendorong pengembangan tanaman herbal dan tanaman obat yang memiliki nilai ekonomis dan manfaat tinggi khususnya di tengah situasi pandemi saat ini.

Rutin meminum herbal dan jamu berbahan alami dari bumi Indonesia diyakini Mentan mapu meningkatkan kekebalan tubuh atau daya tahan tubuh.

Para petani di Dusun Suruh Engkadok, Desa Pala Pasang, Kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau, Kalbar yang tergabung dalam kelompok tani Batu Tikus justru meraup keuntungan di tengah pandemic covid 19 ini. Sebab, jahe menjadi salah satu tanaman herbal yang paling banyak di cari karena diyakini berhasiat memperkuat imunitas atau daya tahan tubuh.

Susanto Anyuk, Ketua poktan Batu Tikus mengatakan untuk permintaan serta harga mengalami peningkatan. Ia mengatakan bahwa permintaan dari pasar dikota kecamatan Entikong dan tengkulak sering menanyakan persediaan di tingkat petani dusun Suruh Engkadok desa Pala Pasang ( ± 35 Kilometer dari pusat kota kecamatan).

Pamor jahe mendadak naik akibat pandemic covid 19 ini lantaran di yakini bisa meningkatkan imun tubuh.

Masih menurut Pak Anyuk ketua poktan Batu Tikus ini, harga jahe putihnya, panen  periode pertama mencapai Rp 10.000.000,- pada dengan harga perkilogram Rp. 19.000,- di bulan Desember 2020. Dan akhir bulan Januari 2021 beliau melakukan panen kedua dengan harga yang sama.

Fasilitator Desa Pala Pasang saat melakukan monitoring dan evaluasi mengatakan bahwa petani sangat senang dengan adanya peningkatan harga akibat pandemi Covid-19.”ujar Lohanda Yesril.

Hal senada dikatakan Koordinator Balai Peyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Entikong bapak Agustinus Agus yang sekaligus menjadi Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa  Pala Pasang mengatakan kebutuhan akan jahe menang meningkat sejak pandemic covid 19 tahun 2019. Hal ini dikatakanya karena sebagian masyarakat menyakini bahwa mengkomsumsi jahe bisa meningkatkan / memperkuat imunitas tubuh atau daya tahan tubuh untuk melawan virus khususnya virus covid-19.

Mengenai kenaikan harga tanaman obat dan rimpang yang mengalami kenaikan ditengah pandemi juga disambut baik Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi. Ia mengaku bahagia karena petani tetap bergairah menanam di tengah pandemi Covid-19, khususnya tanaman rimpang yang harganya melambung lantaran diminati konsumen, karena khasiatnya untuk imunitas tubuh menangkal virus Corona. Dia mengajak juga masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam tanaman rimpang.

Atas permintaan pasar yang terus meningkat, petani pun di tuntut lebih optimal melakukan  perluasan lahan baru dan dan teknik budidaya yang maksimal agar produksi lebih optimal.’’ujar Lohanda Yesril.