Konawe, Sultra, READSI – Kunjungan Tim Pemberdayaan, Tenaga Ahli (TA) Program Rural Empowerment and Agricultural Scaling Up-Initiative (READSI) Provinsi Sulawesi Tenggara Aisa Rauf di Kelurahan Hopa-Hopa Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), memberi semangat kepada kelompok tani (Poktan) dampingan program yang bertujuan meningkatkan pendapatan petani miskin berbasis pertanian ini. Senin/24/5/2021.

Selain komunitas pertanian yang saat ini variasinya begitu banyak dan kemudian digital sistem menghubungkan antar-negara, sehingga market-nya internasional juga. Marketplace-nya itu bisa tersedia, maka ini semua menjadi peluang bagi petani muda untuk bisa berakses,” kata Syahrul Yasin

Monitoring dan evaluasi (Monev) oleh Aisa Rauf didampingi Alfian Ishak TA Kabupaten Konawe, turut dihadiri Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Wawatobi Wahid. Di hadapan perwakilan Poktan, Padi Sawah, Vanili, Kakao, dan Lada, serta Kelompok Wanita Tani, Aisa Rauf memberi pencerahan kepada para petani agar petani mulai berorientasi moderen, yaitu petani yang tidak sekedar bertani, tapi juga melakukan pengolahan hasil pertanian menjadi produk setengah jadi atau produk jadi yang bisa menembus pasar agar dapat meningkatkan pendapatan keluarga petani.

“Jangan pakai cara lama jadi petani itu-itu saja terus diurus, tapi sudah harus berpikir moderen, bagaimana mengolah hasil pertaniannya menjadi produk sehingga bisa bernilai tambah,” urai Aisa Rauf dalam diskuski santai bersama para perwakilan Poktan.

Ia mencontohkan beberapa desa dampingan READSI di Sultra, sudah mulai melakukan pengolahan bubuk cabe tidak sekedar menjual cabe gelondongan, sehingga setiap desa dampingan Program READSI memiliki icon. Untuk itu ia mengharapkan ada pertemuan rutin bulanan yang bertujuan untuk membahas perkembangan kelompok, apa kendala kelompok serta apa yang akan dikerjakan guna menambah pendapatan kelompok.  Diharapkannya komoditi andalan Kelurahan Hopa-Hopa harus ditonjolkan salah satu atau dua produk, meskipun Poktan memiliki hasil pertanian yang bervariasi, tapi perlu disepakati produk mana yang akan diangkat untuk diolah, selanjutnya diusulkan kepada Fasilitator Desa (FD) dan PPL sebagai pendamping poktan  untuk dibuat pelatihan.

“Silahkan disepakati waktunya untuk kumpul semua, lalu sepakati komoditi apa yang akan diangkat,” ungkap Aisa Rauf.

Dihimbaunya agar Poktan tidak perlu risau akan pemasaran, seperti Bapak Menteri katakan saat ini pasar sudah bisa langsung dilakukan secara online, selain pasar reguler. Pihaknya pun akan membantu melakukan pemasaran jika pengolohan komoditi lada bubuk bisa dikembangkan oleh petani. Ia mencontohkan komoditi beras saja bisa dipasarkan door to door, dengan cara mengemas dan memberi merek di kemasan.

Menurut Abdul Wahid, Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Wawotobi Kabupaten Konawe, komoditi pertanian yang berpeluang untuk diolah adalah lada, sebab tanaman lada sangat subur di Kelurahan Hopa-Hopa. Namun menurutnya membutuhkan biaya produksi dan jejaring pasar, agar produksi bisa berjalan berkesinambungan.

“Dari dulu ada pikiran mau mengolah lada bubuk, kan disitu ada biaya produksi, ketika mau pasarkan di situ ada kendala, kalau packingnya tidak bagus itu cepat rusak, sehingga sangat dibutuhkan pelatihan,” ungkap Abdul Wahid.

Kehadiran Program READSI bagi Poktan di Kelurahan Hopa-Hopa, dirasakan membuka wawasan pengetahuan pertanian bagi petani.  Sebab tidak sekedar menambah pengetahuan bertani yang baik namun pencerahan akan pemberdayaan melalui pengolahan hasil pertanian, menjadi ilmu baru bagi mereka.

“Adanya Program READSI membuat kita tahu cara bertani yang baik, bagaimana memupuk yang benar, dan waktu-waktunya.  Juga pengetahuan untuk mengolah hasil petanian itu ilmu baru, kami berterima kasih pada READSI sudah menambah pengetahuan petani dan ibu-ibu menjadi ada kesibukan berkelompok,” ungkap Ibu Wike Bendahara KWT Gelora Bersatu Kelurahan Hopa-Hopa.

Hasil diskusi Monev, juga menggali kendala yang dirasakan petani yaitu kesulitan melakukan pengumpulan iuran bulan, untuk memenuhi saldo Kegiatan Simpan Pinjam Poktan. Oleh Aisa Rauf, Poktan diberi pemahaman agar iuran tidak mesti dikumpul sekaligus per bulan, bila dianggap memberatkan angka 20ribu rupiah per bulan, namun cukup dilakukan di rumah saja, per hari mengumpulkan seribu rupiah, sehingga setiap bulan bisa mencapai lebih dari angka 20ribu rupiah.

“Mana berat, menyisihkan seribu rupiah perhari atau memberi jajan anak-anak sepuluh ribu rupiah per hari. Sebenarnya ini tidak berat, namun caranya saja yang perlu diubah sehingga tidak memberatkan,” ungkap Aisah Rauf.

Adapun dana simpanan Poktan bertujuan membiayai kebutuhan Poktan itu sendiri, dan menjadi syarat mendapatkan bantuan Program READSI, dengan adanya swadaya agar tercipta kemandirian dan rasa kepemilihan alsintan bantuan program. Sehingga barang atau mesin bantuan yang dibeli dengan adanya kontribusi dari petani, petani ikut merasakan kepemilikannya dan turut menjaga penggunaannya kelak.

“READSI itu membantu petani menjadi mandiri dan tercipta rasa kepemilikan terhadap barang bantuan program, sehingga wajib ada kontribusi tiga puluh persen Poktan bantuan Program, yang itu bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk petani itu sendiri, dananya silahkan dikelola mandiri oleh kelompok dengan menyepakati aturan-aturan peruntukan dana itu, hanya untuk kepentingan pertanian saja, contohnya membeli tambahan bibit atau pupuk, bukan untuk kepentingan membeli barang lain,” urai Aisa Rauf.