Pertanian menjadi sorotan di tahun kedua pandemi global. Ketersediaan pangan menjadi fokus setiap negara di dunia. Dalam menyikapi isu global, Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) menekankan seluruh elemen yang terlibat untuk bekerja sepenuh hati dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Mentan juga meminta kepada seluruh Petani dan Penyuluh khususnya untuk terus meningkatkan kualitas serta kuantitas produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan dapat diterima di pasar ekspor.

“Pertanian kini menjadi sektor penentu di tahun kedua Pandemi Covid-19, Kementan akan pastikan kebutuhan dalam negeri tercukupi dan kami berkomitmen menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan kita tetap upayakan peningkatan kualitas hasil produksi dan upayakan eksport” ujar Mentan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi juga menegaskan bahwa “sektor pertanian jelas menjadi harapan perekonomian nasional, ketersediaan bahan pokok juga akan terus menjadi sorotan. Kita harus dorong petani untuk tidak berhenti olah tanah, olah tanam, hingga masa panen”, ujar Dedi.

Selain bahan pokok yang menjadi sorotan saat ini, komoditi dengan permintaan tinggi dan harga menjanjikan juga terus diupayakan, salah satunya cokelat.  Selain memiliki rasa yang disukai banyak orang, kandungan baik yang terdapat pada cokelat diantaranya meningkatkan hormon dopamin dan serotonin di dalam otak. Kedua hormon ini memiliki peran memberikan rasa senang dan nyaman. Oleh karenanya Kementerian Pertanian mendorong petani coklat untuk dapat memaksimalkan hasil panen-nya. Didukung pula lewat kerjasama READSI dan PT.MARS untuk pelatihan agronomi dan bisnis kakao. Untuk wilayah sasaran READSI yang menyasar kelompok komoditi coklat di Sulawesi Selatan (Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur), Sulawesi Tengah (Banggai, Parigi Moutong dan Tolitoli dan Sulawesi Tenggara (Kolaka, Kolaka Utara dan Konawe).

“Kakao merupakan komoditas unggulan di Provinsi Sulawesi Tengah dan saat ini kakao merupakan komoditas perkebunan ketiga terbesar setelah kelapa sawit, karet, kakao berperan penting dalam meningkatkan perekonomian sebagai penghasil devisa sekaligus meningkatkan perekonomian petani”, ujar M. Nur Hanif FD Lokait

Namun, budidaya kakao menghadapi banyak kendala di lapangan, antara lain penyakit dan hama tanaman yang dapat menurunkan kuantitas dan kualitas produksi kakao. Budidaya kakao memang saat ini masih menjadi primadona bagi petani khususnya di desa Lokait Kecamatan Simpang Raya Kabupaten Banggai.

Lukman Sangka, ketua kelompok Tani Indah komoditas kakao sasaran READSI menuturkan, “Saat ini hasil kakao yang bisa dihasilkan dalam per tahun per hektarnya 200-500 kg, memang jauh lebih sedikit dari tahun-tahun sebelumnya karena serangan hama, penggunaan bahan kimia pupuk dan umur tanaman kakao yang sudah tua.”

Penyuluh Pertanian setempat, Rahman Sutrisno sangat bersyukur dengan adanya Program READSI yang ada di Desa Lokait Kecamatan Simpang Raya Kabupaten Banggai. Rahman juga menjelaskan bahwa READSI telah mengembalikan semangat bagi kelompok kakao untuk kembali aktif membudidayakan kakao.

“Berkat READSI, petani kakao disini jadi aktif Kembali, dari pembibitan mandiri hingga penanaman. Saat ini petani jelas lebih giat lagi dalam budidaya kakao, ditambah ada saprodi berupa bibit dan pupuk. Semoga hasilnya dapat membantu perekonomian dari masyarakat desa lokait”, jelas Rahman