Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyerukan walau di tengah pandemi Covid-19 petani tidak boleh patah semangat dalam menyediakan bahan pangan. Mentan mengatakan ditengah masa pandemi Covid-19, “Ada dua sektor yang tidak boleh berhenti dalam situasi seperti ini yaitu sektor pertanian dan kesehatan. Oleh karena itu, Kita tidak boleh lengah menyediakan bahan pangan”.

Ditegaskan Kembali oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi juga menegaskan bahwa “pertanian tidak boleh berhenti, olah tanah, olah tanam, hingga masa panen oleh petani harus tetap berlangsung di tengah kondisi seperti saat ini, karena masalah pangan adalah masalah yang sangat utama dan mempengaruhi hidup matinya suatu bangsa”, tegas Dedi.

Desa Ogoalas masuk dalam wilayah Kecamatan Tinombo Kabupaten Parigi Moutong Provinsi Sulawesi Tengah. Desa tersebut adalah salah satu desa yang menjadi sasaran Program READSI sejak tahun 2019. Dukungan READSI sebagai bagian dari upaya pemerintah pusat dalam mengembangkan potensi petani dan lahan lewat pemberdayaan. Salah satunya dengan Sekolah Lapang bagi petani di daerah sasaran program dengan harapan dapat meningkatkan pendapatan petani. Dalam arti yang lebih luas READSI mendorong peran petani dalam menggerakan perekonomian didesanya.

Dukungan READSI bagi kelompok tani di Desa Ogoalas yang berada di antara bukit dan pegunungan dengan ketinggian 509 mdpl dinilai sangat tepat. Irwan Ilimullah selaku fasilitator desa Ogoalas mengaku senang dengan hasil kegiatan READSI dan pelatihan yang diberikan ke kelompok tani di desa Ogoalas. “SL READSI sangat berguna bagi petani dalam meningkatkan pengetahuan. Wilayah desa di sini agak sulit pada awalnya persentase permukaan tanah di desa Ogoalas perbukitan 40% dan pegunungan 60%”, ujar Irwan.

Wirna Wati selaku penyuluh pertanian mengaku masyarakat desa Ogoalas sudah mulai percaya diri untuk menanam kembali padi ladang. “lahan demplot pada awal bulan desember 2019 dukungan READSI membangkitkan semangat tanam padi lading bagi masyarakat, awalnya masyarakat adat desa Ogoalas hanya menanam tanaman bawang merah, jagung, padi ladang, kemiri, umbi – umbian (ubi kayu,talas) kacang hijau, sedangkan sampingan lainya adalah berburu di hutan sekitar gunung dan mencari rotan dan kayu manis”, jelas Wirna. Perlakuan pada tanaman padi ladang dilakukan dengan cara pembersihan gulma dan rumput pengganggu lainya secara manual dan gotong royong setiap 2 hari.  Anggota kelompok bergantian untuk menjaga dan membersihkan lahan.

Tanggal 11 Mei 2020 merupakan panen perdana padi ladang dilaksanakan oleh kelompok tani Tompeng 4 yang dihadiri pula oleh Ketua Adat, Kepala Desa (Moh Rais), Kepala UPTD Kecamatan (Amarkandi), Penyuluh pertanian (Winar Wati), Tenaga Ahli Provinsi dan Kabupaten.  Benih yang di gunakan untuk tanaman demplot adalah jenis padi ladang lokal dengan benih saat itu 14 Kg yang ditanam di lahan demplot  dengan luas lahan sekitar 1 Ha. Hasil panen setelah berumur 4,2 bulan sekitar 27 karung goni gabah dengan perkiraan 1 Ton dalam bentuk beras. Tetapi tidak semua gabah itu digiling menjadi beras karena kelompok sudah menyepakati dalam musyawarah bahwa sebagian gabah itu akan menjadi benih dan akan ditanam di musim tanam berikutnya.

Walau kegiatan tanam dan panen menjadi sangat penting demi menjaga ketersedian pangan, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian, Bustanul Arifin Caya, selaku Direktur Program READSI, berpesan agar seluruh tim, khususnya petani dapat menjaga kesehatan diri dan keluarga nya. “jaga jarak itu wajib, hindari kerumunan juga dan jangan lupa cuci tangan, kalua bisa konsumsi makanan yang sehat serta seimbang agar daya tahan tubuh bagus, karena kalau kita sehat maka kita dapat berkontribusi lebih dalam memastikan keamanan ketersediaan pangan”, ujar Bustanul.