Perempuan dalam sektor pertanian memiliki peran yang penting. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah perempuan petani di Indonesia pada tahun 2018 tercatat sebanyak 8.051.328 jiwa. Berdasarkan data tersebut, Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah petani tertinggi pada tahun 2018. Jumlah petani perempuan di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2018 sebanyak 1.559.572 jiwa.

Dukungan penuh diberikan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menjadikan sektor pertanian menjadi sektor yang ramah bagi pekerja perempuan. Tujuan Kementan mengupayakan hal tersebut untuk mengangkat peran perempuan yang bekerja pada sektor pertanian.

Sebagai dukungan atas meningkatkan keterlibatan perempuan, READSI tetap memberikan dukungan bagi petani di wilayah sasaran melalui Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten juga pemberdayaan melalui Tenaga Ahli Kabupaten serta Fasilitator Desa.  Dalam upaya peningkatan perbaikan gizi, READSI sangat mendorong keterlibatan perempuan dalam kelompok sasaran program. Dengan harapan meningkatnya peran serta produktivas wanita tani sebagai pengurus rumah tangga dan pencari nafkah (tambahan maupun utama). Hal ini berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, menuju pencapaian perbaikan gizi keluarga.

Tidak hanya pemanfaatan pekarangan, READSI sangat memberikan dukungan bagi petani perempuan Kakao. “Di sektor Kakao, perempuan sebenarnya memainkan peran penting khususnya kegiatan yang berhubungan dengan pemanenan dan pengelolaan keuangan. Namun, perempuan umumnya memiliki akses yang lebih sedikit dibandingkan laki-laki untuk dapat berpartisipasi dalam kegiatan peningkatan kapasitas maupun peluang atau program terkait peningkatan kapasitas”, jelas Marjaya Penyuluh Pertanian setempat.

“Berdasarkan kondisi pemantauan di lapangan terkhusus di desa Lawadia Kecamatan Tiwu Kabupaten Kolaka Utara, diketahui bahwa perempuan memiliki pengetahuan dan kemampuan budidaya kakao yang baik. Hal ini tercermin dari tingkat partisipasi selama kegiatan Sekolah Lapang program READSI”, ungkap Fasilitator Desa Lawadia Junaidi.

Selain itu, perempuan juga berperan aktif dalam mendorong suami untuk menerapkan praktek perkebunan kakao yang baik di kebun mereka. Yang mana dapat dijumpai pasca kegiatan Sekolah Lapang, proses transfer teknologi banyak dilakukan di rumah-rumah mereka yang melibatkan perempuan dalam memberikan saran dan masukan kepada suami terkait pengelolaan dan pemeliharaan kebun yang baik dan benar.

Meskipun terbatasnya partisipasi perempuan dalam proses pengambilan keputusan, kurangnya kepemilikan lahan, namun perempuan memainkan peran penting dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan keputusan tersebut. Sebagai contoh bahwa kurangnya akses perempuan terhadap kepemilikan lahan, menyebabkan perempuan cenderung membatasi pemikiran dan partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga khususnya yang lain-lain terkait dengan fungsi dan penggunaan lahan.

“Jika melihat data bahwa petani perempuan 20-30% kurang produktif di banding laki-laki, tetapi bukan karena cara mereka mengelola perkebunan kurang baik atau kurang bekerja keras. Alasan utama kesenjangan antar kinerja laki-laki dan perempuan adalah bahwa perempuan jarang memiliki akses sumber daya yang memang jarang tersedia bagi petani perempuan seperti kepemilikan tanah, pembiayaan, informasi dan teknologi”, tambah Marjaya

Harapan terbesar dengan kehadiran Program READSI, perempuan dapat dilibatkan secara aktif untuk dapat menggerakkan roda perekenomian keluarga dengan adanya program-program khusus bagi mereka untuk menunjang peningkatan kapasitas perempuan terutama di sektor kakao.