Tomeang, 20 Januari 2020– Menindaklanjuti peringatan Food Agriculture Organization (FAO) tentang adanya krisis pangan global dampak dari pandemi Covid-19, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) ingin Kementerian Pertanian memastikan ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kementan akan gencarkan tanam padi, jagung dan kebutuhan pangan lainnya.  SYL juga menyerukan untuk sehabis panen, langsung tanam lagi.

“Kementan akan terus menggenjot produksi 11 komoditas pangan pokok yang salah satunya adalah jagung. Dengan populasi mencapai 267 juta jiwa,  30% rakyat Indonesia hidup di bidang pertanian. Ditambah negeri kita merupakan negara tropis, mataharinya terus bersinar, hujan tak pernah putus sehingga pertanian tidak boleh berhenti di tengah pandemi”, tegas Mentan.

Di beberapa daerah Indonesia jagung merupakan makanan utama seperti beras. Di sisi lain jagung dipilih karena jagung merupakan makanan yang sering dikonsumsi sebagai sumber kalori selain nasi. Selain fakta menyebutkan bahwa jagung juga memiliki kandungan nutrisi tinggi yang bermanfaat bagi tubuh. Jagung juga kaya akan vitamin B1 yang bermanfaat untuk penyerapan karbohidrat dalam tubuh, vitamin B5 yang membantu normalnya fungsi-fungsi fisiologis, dan vitamin C yang membantu menjaga daya tahan tubuh di tengah wabah Covid-19

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Dedi Nursyamsi mengingatkan dalam masa seperti ini, pertanian tidak boleh berhenti. Dedi juga menyampaikan di setiap kesempatan bahwa Pemerintah Pusat akan mendukung penuh aktivitas yang dilakukan dalam rangka menjaga Ketahanan Pangan Nasional. “Pertanian harus tetap berjalan, petani harus tetap terus turun ke lapangan, dan patuhi protokol pencegahan Covid-19. Pertanian tidak boleh berhenti, karena sektor pertanian berkewajiban menyediakan bahan pangan bagi seluruh penduduk Indonesia”, tegas Dedi.

Menjadi bagian dari Badan PPSDMP Program Rural Empowerment Agricultural and Development Scaling Up Initiative (READSI) hadir di 18 Kabupaten yang tersebar di 6 Provinsi di Indonesia dengan harapan dapat meningkatkan penghidupan petani kurang mampu di daerah sasaran. Diantaranya mendorong keterlibatan perempuan, perbaikan gizi keluarga hingga dorongan untuk simpan pinjam lewat kelompok tani per komoditas.

Kelompok Jagung Mootinelo, Inau’akon dan Gorsal merupakan sasaran Program READSI di Desa Tomeang, Kabupaten Banggai. Ketiga kelompok ini bekerjasama dan gotong royong dalam pembersihan lahan pasca panen. Karena pembersihan lahan masih menjadi  permasalahan dalam budidaya jagung saat ini.

“Petani masih memiliki permasalahan yang cukup besar salah satunya yaitu tentang pembersihan lahan, selain membutuhkan waktu yang lama, memakan biaya yang cukup besar”, ijar M.Yamin Fasilitator Desa Tomeang

Untuk menyiasati jumlah anggaran yang cukup besar, melalui pendampingan kelompok tani Program READSI yang di lakukan oleh Fasilitator Desa Tomeang  (Muh. Yamin. Sangketa ) dan PPL desa Tomeang ( Muh. Rum Mahdali, SP ) telah membuahkan hasil.

“Kegiatan pembersihan lahan kini dilakukan secara Mapalus atau gotong royong sehingga pengeluaran yang peruntukan untuk pembersihan lahan sekarang telah menghemat waktu dan anggaran. Tahun lalu, salah satu petani jagung Bapak Jar’an Ladula (38 tahun) menjelaskan didalam 1 Ha, bisa memakan biaya kurang lebih Rp. 1.500.000, untuk pembersihan lahan”, jelas Rum Mahdali.

Dengan adanya Program READSI, Penyuluh Pertanian dan Fasilitator Desa mengharapkan semangat dari para petani.    Kegiatan mapalus atau gotong royong yang di lakukan juga mempererat tali persaudaraan dan kekompakan antar kelompok tani.