Demi mendongkrak kesejahteraan petani, Kementerian Pertanian turut mengawal petani di Desa Enoran, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pengawalan tersebut dilakukan melalui program READSI.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, meminta masyarakat untuk lebih menghargai para petani dan penyuluh pertanian. Sebab, kerja keras mereka dapat memastikan keberlanjutan produksi pangan dalam negeri dalam mencukupi kebutuhan pangan nasional. “Apalagi, selama dua tahun terakhir pertanian Indonesia mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi disaat sektor ekonomi lainnya mengalami pelemahan,” katanya.

Mentan mengatakan, masyarakat harus bersyukur karena Indonesia tetap mampu menjaga ketahanan pangan dalam negeri di saat banyak negara menguras devisa demi mengimpor bahan pangan selama pandemi.

Untuk lebih meningkatkan kapasitas petani dan penyuluh, Kementan akan terus melakukan kegiatan pelatihan dan vokasi untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber daya pertanian di Indonesia.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menambahkan bahwa tiga pengungkit produktivitas pertanian adalah sarana prasarana dan inovasi teknologi, peraturan perundangan yang mendukung, dan keandalan SDM pertanian, baik petani, penyuluh, dan lainnya.

“Berbicara tentang pertanian harus dimulai dari sumber daya manusianya sehingga harus bisa bertransformasi dari menerapkan pertanian tradisional ke modern. Ciri pertanian modern yakni produktivitasnya tinggi dan bisa menghasilkan keuntungan,” ujar Dedi.

Salah satu kunci agar kelompok tani bisa berjalan dinamis adalah kedekatan penyuluh dan fasilitator desa dengan kelompok tani. Kedekatan dapat dilakukan melalui kunjungan lapangan serta mengupgrade pengetahuan petani. Seperti yang dilakukan oleh Santy Nuefa, Fasilitator Desa Enoran, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, yang memfasilitasi pertemuan poktan Tunas Baru dengan agenda Sosialisasi kegiatan KUB, Lembaga keuangan berbadan hukum dan juga aktifkan Iuran perbulan.

Dalam pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan dalam kelompok untuk menginisiasi kelompok usaha bersama untuk meningkatkan arus kas kelompok, dengan penyewaan alsintan program READSI yang akan di mulai pada April 2022.

Untuk Lembaga keuangannya, akan ditindaklanjuti pada minggu depan dengan Iuran perbulan Rp 2.000. Sampai saat ini iuran kelompok dari Januari 2022 telah terkumpul sebesar Rp 175.000.

Santy menjelaskan, meski kini petani bisa mendapatkan informasi teknologi pertanian dari internet dan segala hal yang berbau instan, sehingga ada kesan petani tidak lagi memerlukan pendampingan penyuluh. Namun kenyataan, petani tetap masih memerlukan bimbingan penyuluh pertanian dan Fasilitator desa pendamping.

Dalam Permentan No. 273/Kpts/Ot.160/4/2007 tentang Penumbuhan Kelompok Tani, sangat jelas dukungan SDM berkualitas melalui penyuluh pertanian dengan pendekatan kelompok yang dapat mendukung sistem agribisnis berbasis pertanian (tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan). Karena itu, perlu dilakukan pembinaan dalam rangka penumbuhan dan pengembangan kelompok tani menjadi kelompok yang kuat dan mandiri untuk meningkatkan pendapatan petani dan keluarganya.

Saat ini, pertemuan rutin kelompok program READSI  berjalan sesuai yang diprogramkan. Banyak yang terjadi saat penyuluh dan Fasilitator Desa berkunjung, petani lebih sering curhat kekurangan pupuk, bantuan yang tidak tepat sasaran atau tentang hama penyakit.

Salah satu tugas penyuluh pertanian dan Fasilitator Desa adalah membina kelompok tani. Pembinaan kelompok tani diarahkan pada penerapan sistem agribisnis, peningkatan peran serta petani dan anggota masyarakat pedesaan lainnya, menumbuhkembangkan kerjasama antar petani dan pihak lainnya yang terkait untuk mengembangkan usaha tani.

Dengan pembinaan kelompok tani diharapkan dapat membantu menggali potensi, memecahkan masalah usaha tani secara lebih efektif, dan memudahkan mengakses informasi, pasar, teknologi, permodalan dan sumberdaya lainnya.  Hal ini bisa dilihat dari organisasi kelompok tani yang kuat dan mandiri.